Hilangnya Gagasan dalam Gudang Ilmu

213 views

Hilangnya Gagasan dalam Gudang Ilmu – Tinjauan Singkat SD Islam Khoiru Ummah Kota Malang dalam Pusaran DISRUPSI. Sahabat Pensil Patah, pasti kita sudah banyak mendengar istilah asing ini. DISRUPSI. Mungkin juga telinga kita gatal mendengar istilah yang terkesan baru bagi telinga kita itu. Namun, jika kita pahami maknanya, ternyata DISRUPSI itu “barang lama”. Barang seken, alias bukan barang baru.

Hilangnya Gagasan dalam Gudang Ilmu 1

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, disrupsi didefinisikan hal tercabut dari akarnya. Jika diartikan dalam kehidupan sehari-hari, disrupsi adalah sedang terjadi perubahan fundamental atau mendasar. Yaitu evolusi teknologi yang menyasar sebuah celah kehidupan manusia.

Perubahannya sangat cepat. Disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif kreatif. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat hingga pendidikan.

Karena itu fungsi pendidik bergeser lebih mengajarkan nilai-nilai etika, budaya, karakter, kebijaksanaan, pengalaman hingga empati sosial karena nilai-nilai itu yang tidak dapat diajarkan oleh mesin. Pertanyaannya adalah, apakah para pendidik kita saat ini telah disiapkan untuk menghadapi perubahan peran ini?

Hal ini bukan hanya persoalan mengganti kelas tatap muka konvensional menjadi kelas dunia maya. Namun yang lebih penting adalah revolusi peran pendidik sebagai sumber belajar atau pemberi pengetahuan menjadi mentor, fasilitator, motivator, bahkan inspirator dalam mengembangkan imajinasi, kreativitas, karakter serta team work para generasi muda yang dibutuhkan pada masa depan.

Hilangnya Gagasan dalam Gudang Ilmu cara mendidik murid sd di era disrupsi
Mendidik Murid SD di Era Disrupsi – Dok. SD Islam Khoiru Ummah, Kota Malang 2018

Gagasan – Disrupsi sering dianggap ancaman tanpa kita sadari bahwa teknologi telah mengubah banyak hal. Perubahan akibat teknologi ini tengah terjadi serempak di seluruh dunia, mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia seperti pendidikan dan gaya hidup sampai model kepemimpinan.

Lalu, bagaimana sikap kita? Ikuti “permainannya”, begitu kata guru besar Agronomi saya di IPB Bogor suatu hari. Maknanya adalah kita tak perlu panik agar pikiran tetap jernih, karena kita sudah yakin sejak awal bahwa anak-anak kita sudah ter-install akhlaq yang baik dalam jiwanya. Jadi dalam mengikuti “permainan disrupsi” setiap pemain harus tau aturan permainan dan strategi menghadapinya.

Sebagai ilustrasi, lahirnya pemikiran dan implementasi “Revolusi Hijau” di era tahun 1980-an adalah bukti nyata bahwa teknologi dunia mempengaruhi cara kita berpikir tentang Swasembada Pangan. Alhasil, kita pernah meraih predikat itu di era kepemimpinan Soeharto dan menjadi kiblat pengembangan teknologi pertanian bagi negara-negara berkembang.

Prinsip “Revolusi Hijau” sebenarnya sederhana, kami melihat teknologi bukan sebagai penguasaan antariksa atau bom nuklir. “Revolusi Hijau” lahir dari pemikiran sederhana yang melihat jauh kedepan dengan cepat, yaitu teknologi “Jarak Tanam”.

Kita berhasil berswasembada beras hanya karena merubah pola jarak tanam dan tanam bergilir antara padi dan palawija. Yup, tampak sesederhana itu. Tetapi pemikiran di balik itu semua adalah pemikiran yang benar-benar inspiratif, inovatif, kreatif serta mempertimbangkan perubahan era yang begitu cepat. Dan sekarang diberi istilah DISRUPSI. Kami tidak mengenal nama itu sebelumnya, tetapi sudah mengalami di era 1980-an.

Pertanyaannya adalah: “Bagaimana strategi kita menyiapkan murid-murid SD Islam Khoiru Ummah agar tidak menjadi seperti anak baru bangun tidur dan bertanya pada bapaknya, apa yang sedang terjadi?”

Hilangnya Gagasan dalam Gudang Ilmu revolusi peran pendidik di era disrupsi
Revolusi Peran Pendidik – Dok. SD Islam Khoiru Ummah, Kota Malang 2018

Menjawab pertanyaan yang mencerminkan kebingungan semacam “apa yang sedang terjadi” adalah dengan cara melibatkan langsung anak-anak ini ke dalam pemikiran inovatif dan kreatif. Syukur-syukur bisa menjadi inspirasi banyak orang. Tak ada cara lain, anak-anak ini harus dibiasakan dan ditumbuh kembangkan dalam lingkungan yang terbiasa berpikir. Bukankah Islam mengajarkan:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (Al-Mujaadilah: 11)

Setidaknya, ayat suci itu bisa kita jadikan motivasi dan inspirasi agar anak-anak kita senantiasa berilmu. Tidak harus “know it all” tapi lebih kepada “learn them all”. Jadi meski era DISRUPSI adalah “barang bekas” namun pemahaman dan persiapan anak-anak kita menghadapinya membutuhkan pendekatan baru yang disebut revolusi peran pendidik.

Baca juga: Ikhtiar Membumikan Teknologi Layar Sentuh

Dan setidaknya (lagi), SD Islam Khoiru Ummah sudah memulai satu langkah penting mempersiapkan civitas academica-nya menata kecerdasan IQ, EQ, SQ dan AQ melalui kegiatan Islamic Math AdventureKhoiru Ummah”.

Apa tujuan program Islamic Math AdventureKhoiru Ummah”? Apakah masih saudaranya DISRUPSI? Atau hanya bahasa keren-kerenan, gagah-gagahan semata? Kalau jawaban pertanyaan pertama bisa saya jelaskan dengan singkat dan padat, yaitu agar siswa SD Islam Khoiru Ummah tidak kehabisan gagasan di gudang ilmu. Istilah kerennya di masa era “Revolusi Hijau” dulu: jangan sampai mati di lumbung padi. Tetapi, untuk pertanyaan kedua dan ketiga, biar waktu yang menjawabnya.

Wallahu ‘alam

Al-Faqir Ila Allah | Bekti Hermawan

Leave a reply "Hilangnya Gagasan dalam Gudang Ilmu"

author
Insan Perindu IHSAN. Pencari Hikmah di Telaga Kehidupan.